Kiamat Sudah Terjadikah

Kalau Qita amati & cermati tanda2 akn datangnya hari akhìr (Qiyamat) hari dimana dimusnahkannya alam semesta ini, tidak ada satupun makhluk yg tersisa, semuanya binasa, tdk ada yg bisa lari / sembunyi darinya.
Qiyamat sudah Qt rasakan, terjadinya brbagai bencana & musibah secara brtubi2 sperti tsunami di Aceh menewaskan lebih dari 200 ribu korban jiwa melayang, banjir bandang merusak ratusan rumah, kebakaran hutan di kalimantan, lumpur panas yg terus keluar dr perut bumi di sidoarjo, danau jebol di situ gintung, gunung meletus, gempa bumi di jogja, trbaru gempa di jabar & kmaren trjadi di sumbar d kota padang & rentetan kecelakaan lalu lintas baik d darat, laut maupun udara, merupakan peristiwa Qiyamat sugro (kecil).
Bagi Hamba-Nya yg shaleh & briman musibah yg trjadi adLh bentuk kasih sayang Allah melalui ujian agr manusia senantiasa mengingat-Nya, dan bg mereka yg lalai & ingkar, musibah yg menimpanya adLh adzhab dr Allah krn kelalaiannya sendiri tdk patuh pd hukum2 Allah & agr manusia kembali pd-Nya brtaubat dg sesungguhnya. Bahwa Qiyamat yg trjadi skrng adLh kiamat kecil & datangnya Qiyamat Kubro tdk lama lg akn trjadi tanda2nya sudah nampak d dpn mata kita, d antara tandanya, banyak trjadi kemungkaran merajalela di mana2, tdk jLs mana yg hak & mana yg batil, mana haram mana yg halal. Bayi lhir dr hasil perzinahan, laki2 brpenampilan sprti layaknya perempuan & perempuan mirip laki2, pemimpin tdk amanah & brbuat dzalim pd rakyatnya, pedagang curang dg mengurangi takaran timbangan & brang dipalsukn, riba menguasai perekonomian bangsa, korupsi merajalela sudah menjadi tradisi, kejahatan meningkat & mendominasi drpd kebaikan, artis dijadikan figur tauladan dLm kehdpan sehari2, agama ditinggalkan pengikutnya, al-qur-‘an menjadi hiasan rmh, nabi palsu, mempercayai para normal, takjub pd sulap & sihir. Sesungguhnya yg demikian itu merupakan tanda bg orng yg brfikir.

Skripsi Gue

Judul Skripsi                            : Fatwa Majelis Ulama Tentang Hak Cipta

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Proses kehidupan manusia, mengantarkan manusia pada fase-fase dimana manusia mampu menghasilkan karya-karya monumental. Karya-karya agung manusia inilah, sebagai produk dari akal yang dikaruniakan oleh Allah swt. yang membedakan dengan berbagai makhluk lainnya. Sebagaimana kita ketahui, manusia hidup selalu bersinggungan dengan manusia lain. Sehingga saling melengkapi, saling mambantu, dan saling memberikan manfaat merupakan sebuah aktifitas yang tidak akan bisa dielakkan. Tentunya dalam kegiatan yang bermanfaat dan dalam kebaikan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat  Al Maidah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. “

Dalam kehidupan modern sekarang ini, banyak hal yang telah dihasilkan oleh ummat manusia, meneruskan apa yang telah dihasilkan oleh para ilmuan pada jaman dahulu. Ide, pemikiran dan berbagai bentuk alat banyak tercipta. Perkembangan teknologi maju demikian pesatnya. Pada perkembangannya, kemudian muncul ide untuk melindungi berbagai temuan dan ciptaan manusia. Ide ini kemudian dirangkum pada peraturan perundangan-undangan mengenai Hak Cipta dan Hak paten.

Hak cipta berlaku pada berbagai jenis karya seni atau karya cipta atau “ciptaan”. Ciptaan tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta karya tulis lainnya, film, karya-karya koreografis (tari, balet, dan sebagainya), komposisi musik, rekaman suara, lukisan, gambar, patung, foto, perangkat lunak komputer, siaran radio dan televisi, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri.

Hak cipta merupakan salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak cipta berbeda secara mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti paten, yang memberikan hak monopoli atas penggunaan invensi), karena hak cipta bukan merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan hak untuk mencegah orang lain yang melakukannya. Hukum yang mengatur hak cipta biasanya hanya mencakup ciptaan yang berupa perwujudan suatu gagasan tertentu dan tidak mencakup gagasan umum, konsep, fakta, gaya, atau teknik yang mungkin terwujud atau terwakili di dalam ciptaan tersebut. Sebagai contoh, hak cipta yang berkaitan

Di Indonesia, masalah hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak Cipta, yaitu, yang berlaku saat ini, Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002. Dalam undang-undang tersebut adalah “hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku” (pasal 1 butir 1). Hak ekslusif adalah hak yang dimiliki oleh pemegangnya sehingga tidak ada orang lain yang memanfaatkan tanpa ijinnya.

Hak cipta sebenarnya diawali dengan munculnya revolusi cetak, setelah ditemukannya mesin cetak. Penemuan mesin cetak memungkinkan orang dengan mudah menggandakan sebuah buku, dan akibatnya buku tersedia amat banyak di Eropa. Jenisnya pun mulai beragam. Pembajakan sudah dianggap hal yang biasa oleh masyarakat tanpa mengindahkan bahwa hal tersebut merupakan pelanggaran, terlebih lagi keadaan yang berlarut-larut tanpa adanya tindakan yang tegas, semakin menimbulkan anggapan pembajakan sudah merupakan hal yang biasa dan tidak lagi merupakan tindakan melanggar undang-undang.

Ismail Shaleh, mengatakan bahwa ringannya hukuman yang dijatuhkan dalam kasus-kasus pelanggaran hak cipta merupakan suatu penyebab tingginya pembajakan, ( Widya Pramono, 1992 : 19) padahal untuk menanggulangi hal itu, pemerintah sudah mengeluarkan ketentuan pidana yang tercantum dalam UU NO : 7 Tahun 1987 Tentang perubahan atas UU NO : 6 Tahun 1982 Tentang Hak cipta Pasal 44 ayat 1-4. Disisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju telah memungkinkan para pelaku tindak pidana hak cipta untuk melakukan tindakan pidana nyaris sempurna khususnya dibidang perekaman kaset maupun kaset audio, perbuatan si pembajak biasanya baru dapat diketahui setelah sempat menikmati keuntungannya yang besar dari hasil bajakannya.

Dalam fatwa MUI yang dimaksud dengan kekayaan intelektual adalah kekayaan yang timbul dari hasil olah fikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia dan diakui oleh negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karenanya HAKI (hak intelektual) adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreatifitas intelektual dari yang bersangkutan sehingga memberikan hak privat baginya untuk mendaftarkan dan memperoleh perlindungan atas karya intelektualnya.

Sebagai bentuk penghargaan atas kreatifitas intelektualnya tersebut, negara memberi hak eksklusif kepada pendaftarnya dan/atau pemiliknya sebagai pemegang hak yang sah di mana pemegang hak tersebut mempunyai hak melarang orang lain yang tanpa persetujuannya atau tanpa hak memperdagangkan atau memakai hak tersebut dalam segala bentuk dan cara.

Hak inteletual ini meliputi:

1. Hak perlindungan varieatas tanaman.

2. Hak rahasia dagang.

3. Hak desain industri.

4. Hak desain tata letak terpadu.

5. Paten.

6. Hak atas merek.

7. Hak cipta.

Kepemilikan dalam Islam, diartikan sebagai ijin syar’i untuk memanfaatkan barang. Ijin syar’i ini antara lain waris, jual beli, hadiah dan lain-lain. Dalam hal kekayaan intelektual/pemikiran yang belum ditulis dalam kertas, belum direkam dalam kaset itu merupakan hak kekayaan bagi pemiliknya. Ia boleh menjualnya atau mengajarkannya kepada orang lain, dan orang yang mendapatkannya dengan sebab yang dibenarkan oleh syariat, maka ia boleh mengelolanya tanpa terikat oleh pemilik pertama sesuai dengan syariat. Namun demikian orang kedua yang mendayagunakaan pemikiran tersebut tidak boleh mengaku bahwa karya intelektual itu adalah hasil dari pemikirannya. Ini tidak boleh karena merupakan kebohongan. Sehingga perlindungan atas hak kekayaan intelektual adalah perlindungan maknawi, yaitu penyandaran suatu karya pemikiran pada pemiliknya, bukan kulit atau wadah dari pemikiran itu yang berupa buku, kaset dan lain sebagainya.

Pemindahan kepemilikan dari si penemu kepada penerima (bisa jual beli, hibah dah hadiah) hanyalah satu kali. Menjual hak cipta, hak terbit beberapa kali tidak diperbolehkan menurut syariat. Ilmu pengetahuan dan ilmu agama tidak berhak dimiliki oleh seseorang dan tidak boleh memonopolinya untuk kepentingan pribadi sebagai barang mubah dalam jual-beli yang senantiasa berpindah dari penjual kepada pembeli dengan imbalan harga.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَتَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Hai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh diimu, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu ” ( QS. Al. Nisa’ : 29 ) dalam ayat lain ;

وَلاَتَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلاَتَعْثَوْا فِي اْلأَرْضِ مُفْسِدِي

” Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan ” ( QS. Al-Syu’ara : 183 )

Dalam tradisi keilmuan Islam, kekayaan intelektual lebih dititik beratkan pada kepuasan bathin dan iman. Kekayaan intelektual didedikasikan kepada kemaslahatan ummat, bukan untuk kepentingan pribadi saja. Dalam dunia Islam, materi bukan tujuan akhir, tujuan akhir karya manusia adalah didedikasikan untuk ummat manusia dan untuk beribadah.

Mengkaji masalah hak cipta dalam tinjauan hukum Islam, harus dimulai dari pandangan Islam terhadap haq itu sendiri. Haq menurut Mustofa Zarqa’ didefnisikan : “Kekhususan yang diakui oleh syariat Islam, baik itu berupa otoritas atau pembebanan”. Dengan demikian ini mencakup antara lain :

  1. Hak Allah yang dibebankan kepada hambanya, seperti shalat, puasa dan zakat;
  2. Hak sipil seperti hak untuk memiliki atas benda
  3. Hak sosial, seperti hak orang tua kepada anak dan hak suami terhadap isteri;
  4. Hak Publik seperti kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya;
  5. Hak berkaitan dengan harta seperti nafkah;
  6. Hak yang berkaitan dengan otoritas seperti perwalian
  7. Hak asasi yang mencakup hak untuk hidup bebas.

Hukum Islam dalam kaitannya dengan hak, menetapkan langkah-langkah hukum sebagai berikut:

  1. Memberikan hak kepada yang berhak. Bila itu hak Allah, maka harus dipenuhi   dengan mengikuti aturan yang telah diberikan oleh Allah. Semisal shalat harus dipenuhi oleh mereka yang kewajiban sesuai dengan aturan yang ditentukan. Demikian pula zakat harus diberikan oleh mereka yang berkewajiban dan disalurkan kepada yang berhak, sesuai ketentuan yang ditetapkan. Terkadang diperlukan suatu perangkat hukum tertentu untuk menegakkan hak ini, seperti dibentuknya lembaga hukum yang mengelola zakat, agar tidak terjadi kecurangan dan penyelewengan. Bila itu hak manusia diberikan kebebasan dalam memberikan dan menuntutnya melalui kesadaran dan saling ridlo (taradili). Memberikan hak kepada yang berhak merupakan kewajiban agama dan merampas hak dari pemiliknya merupakan tindakan yang dilarang agama.
  2. Melindungi Hak Syariat Islam memberikan perlindungan kepada hak dari segala bentuk penganiayaan, kecurangan, penyalahgunaan dan perampasan. Di sini perlindungan yang diberikan pertama: berupa perlindungan moral, seperti keharaman meninggalkan ibadah wajib, keharaman mencuri, berzina, keharaman menipu dan memalsu, keharaman transaksi mengandung riba dan kewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai masayrakat yang sesuai agama. Kedua adalah perlindungan hukum, setiap orang yang dizalimi boleh mengangkat masalahnya ke pengadilan untuk mendapatkan kembali haknya.
  3. Menggunakan hak dengan cara yang sah dan benar. Setiap manusia diberi wewenang mengunakan haknya sesuai dengan yang diperintahkan dan diizinkan oleh syariat. Oleh sebab itu dalam mengunakan hak tidak boleh melapaui batas dan tidak boleh menimbulkan kerugian pada pihak lain, baik yang sifatnya personal maupun publik. Suatu contoh meskipun dalam menggunakan hak miliknya seseorang mendapatkan jaminan hukum, tapi jangan sampai dalam mengguankan hak milik tersebut mencederai orang lain. Seorang penguasa meskipun diberi hak membelanjakan harta publik, ia tetap berkewajiban membelanjakannaya sesuai peraturan dan ke jalan yang benar.
  4. Menjamin perpindahan hak dengan cara benar dan sah. Hukum Islam melindungi perpindahan hak melalui prosedur dan cara yang benar, baik itu melalui transaksi seperti jual beli, atau pelimpahan seperti dalam kasus jaminan uang atau hak yang berkaitan dengan wewenang, berpindahnya hak perwalian dari orang tua ke anak sepeninggal orang tua.
  5. Menjamin hangus/terhentinya hak dengan cara benar dan sah Hukum Islam melindungi hangusnya hak, atau terhentinya hak melalui prosedur dan cara yang sah, misalnya hangusnya hak suami isteri melalui perceraian atau pengguguran hak secara sukarela, seperti tidak menggunakan hak menuntut ganti rugi. Bagaimana dengan hak paten atau hak cipta? Hak-hak yang disebutkan di atas telah mempunyai landasan dalil eksplisit yang cukup kuat, baik dalam al-Qur’an atau hadist Nabi. Namun semacam hak paten atau hak cipta, tidak mempunyai landasan nash yang eksplisit. Ini karena gagasan pengakuan atas hak paten dan hak cipta itu sendiri merupakan masalah baru yang belum dikenal oleh masyarakat terdahulu.
  6. Dalam jurisprudensi tertentu hak ini masuk dalam kategori hak intelektual. Namun secara implisit, perlindungan hak intelektual tetap ditemukan dalam sistem hukum Islam. Ini di satu pihak, karena konsep hak itu sendiri yang dalam perpekstif hukum Islam, tidak baku dan bisa berkembang secara fleksibel. Misalnya perlindungan terhadap hak Allah, teknisnya tetap akan tergantung kepada berbagai situasi dan kondisi yang melingkupinya. Apalagi hak-hak yang sifatya sosial dan publik yang sangat sarat dengan perkembangan peradaban dan kultur. Di pihak lain, pola perlindungan terhadap hak yang diberikan oleh hukum Islam, meskipun sasaranya baku, aspek teknis dan implementasinya tetap akan sangat tergantung kepada keadaan. Fleksibilitas penerapan dengan sasaran yang jelas itulah termasuk salah satu ciri khas hukum Islam.
  7. Dari pendekatan ini, bisa dikatakan bahwa hak intelektual, sesuai pekembangan dan tuntutan zaman, termasuk hak yang harus dilindungi oleh syariat. Mengingat tidak ada nash ekplisit yang membahasnya, maka sumber hukum yang digunakan adalah maslahah mursalah (kemaslahatan umum), yaitu bahwa setiap sesuatu atau tindakan yang sesuai dengan tujuan syariat Islam, dan mempunyai nilai mendatangkan kebaikan dan menghilangkan kerusakan, namun tidak mempunyai dalil eksplisit, hukumnya harus dijalankan dan ditegakkan.

Kemaslahatan tersebut bisa dilihat dari aspek-aspek sbb:

  1. Pencipta atau penemu temuan baru tersebut telah membelanjakan begitu besar waktu, biaya dan fikirannya untuk menemukan suatu temuan baru, maka sudah selayaknya dilindungi temuannya tersebut. Dalam penelitiannya ia pasti tidak lepas dari tujuan pengembangan ilmu dan keuntungan meteri, sudah selayaknya pula dua tujuan tersebut dilindungi dan diberi penghargaan.
  2. Temuan baru tersebut mempunyai nilai harga dan bisa komersial, seperti terlihat bila itu dijual akan mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit, maka melindungi temuan baru tersebut tidak ada bedanya dengan melindungi harta yang sifatnya fisik.
  3. Mayoritas ulama mengatakan bahwa manfaat suatu benda merupakan kekayaanyang mempunyai nilai harga, ini karena kebanyakan benda dinilai dari manfaatnya bukan zat fisiknya. Oleh karena itu manfaat terebut dilindungi secara hukum. Demikian pula penemuan baru harus dinilai dari manfaatnya dan dari situ diperlukan perlindungan untuk melindunginya.
  4. Hukum Islam menempatkan adat dan opini publik sebagai salah satu sumber hukumnya, bila tidak bertentangan dengan ketentuan umum hukum Islam. Perkembangan adat dan opini publik saat ini, telah menunutut hak intelektual harus dilindungi. Demikian juga pencurian dan pemalsuan terhadap hak inteletual oleh opini publik telah dianggap tindakan penyelewengan hukum, atau bahkan tindakan pidana. Apalagi pada saat ini, penyelewengan atau pemalsuan atas hak cipta ini telah bisa dirasakan kerugiannya secara pasti. Menimbulkan kerugian kepada orang lain jelas tindakan yang dilarang agama. Itulah landasan yang digunakan hukum Islam untuk melindungi hak intelektual atau hak cipta.

Dengan demikian pencurian atas hak cipta menurut hukum Islam juga bisa terancam hukuman. Bagaimana bentuk hukuman tersebut, tergantung kepada sistem peadilan dan menentukannya. Dosakah pencurian atas hak cipta dalam tinjauan agama? Sejauh hak cipta merupakan hak yang harus dilindungi, maka mencurinya, secara lahir jelas sama dengan mencuri hak-hak lain yang terlindungi. Sejauh pencurian terhadap hak intelektual menimbulkan kerugian bagi pemilik hak tersebut, maka mencurinya jelas sama dengan menimbulkan kerugian materi lainnya terhadap orang lain. Yang jelas agama Islam melarang segala bentuk kedzaliman dan tindakan yang merugikan orang lain.

Bagaimana kalau pencurian atas hak cipta tersebut dilakukan untuk kemaslahatan lain yang lebih besar? Ini memerlukan kajian yang lebih telilti lagi tentang bagaimana mengukur kemaslahatan tersebut, sehingga bisa menerapkan qaidah “Idza Taa’radal Maslahatan, Quddima A’dlamu huma” Apabila terjadi dua maslahat yang bertentangan, maka diambil yang lebih besa

Menurut MUI Pusat dalam hukum islam, hak cipta dipandang sebagai salah satu huquq maliyyah (hak kekayaan) yang mendapat perlindungan hukum (mashun) sebagaimana mal (kekayaan). Hak cipta yang mendapat perlindungan hukum islam sebagaimana dimaksud diatas adalah hak cipta atas ciptaan yang tidak bertentangan hukum islam. Sebagai mana mal (kekayaan) hak cipta dapat dijadikan obyek akad (al-ma’qud ’alaih), baik akad mu’awadhah (pertukaran, komersial), maupun akad tabarru’at (non komersial), serta diwakafkan dan diwarisi, setiap bentuk pelanggaran terhadap hak cipta.

Setiap bentuk pelanggaran HAKI termasuk, namun tidak terbatas pada menggunakan, mengungkapkan, membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, mengedarkan, menyerahkan, menyediakan, mengumumkan, memperbanyaki, menjiplak, memalsu, membajak HAKI milik orang lain secara tanpa hak merupakan kezhaliman dan hukumnya haram.

Dengan melihat permasalahan di atas, maka penulis ingin mengangkat  skripsi dengan  judul ; “ FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG HAK CIPTA

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana Urgensi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Hak Cipta?
  2. Apa dasar hukum yang digunakan komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Hak Cipta ?
  3. Bagaimana metode Istinbath ahkam yang digunakan komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia  tentang Hak Cipta ?

C. Tujuan Penelitian

Berpijak dari rumusan diatas, ada obsesi yang ingin dicapai penulis yakni penelitian ini dapat memberikan kontribusi pemikiran dan menjadi sumbangan dalam memberikan jawaban hukum tentang Hak Cipta menurut Fatwa MUI. Oleh karena itu penelitian secara spesifik penelitian ini bertujuan sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui Urgensi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Hak Cipta ?
  2. Untuk mengetahui dasar hukum yang digunakan komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Hak Cipta ?
  3. Untuk mengetahui metode Istinbath ahkam yang digunakan komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia  tentang Hak Cipta ?

D. Kerangka Pemikiran

Hukum Islam memiliki keistimewaan dan keindahan yang menyebabkan hukum islam menjadi hukum yang serba lengkap dan mampu memberi jawaban terhadap problematika yang di hadapi masyarakat secara komprehensif, termasuk faktor hak kekayaan intelektual dalam kehidupan manusia yang paling mendasar dan mempengaruhi kehidupannya serta mampu pula menjamin ketenangan dan kebahagiaan hidup manusia  di tengah-tengah masyarakat.

Nash (al-Qur’an dan as-Sunnah) terbatas, sedangkan permasalahan terus bermunculan. Bila tidak ditemukan hukumnya dalam nash tersebut, maka jalan lain yang ditempuh adalah memahami isi dan jiwa dari ajaran islam itu, sepanjang tidak bertentangan dengan asas yang pokok tadi. Disinilah letak peran para mujtahid (individual atau kolektif) dalam menyelesaikan masalah tersebut ( M. Ali Hassan,1995:VII ).

Dalam upaya merefleksikan setiap peraturan yang terhimpun dalam hukum islam perlu diadakan pengkajian terhadap sumber-sumber hukum yang azasi, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan dua sumber hukum islam yang (fiqh) pada garis besarnya dapat dikembalikan dalam bidang utama, yaitu Ibadah dan adat (mu’amalah). Yang pertama adalah hukum-hukum yang maksud fokoknya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini telah ditegaskan dalam nash dan berkeadaan tetap tidak dipengaruhi oleh perkembangan masa dan berlainan tempat, serta wajib diikuti dengan tidak perlu menyelidiki makna dan maksudnya. Yang kedua adalah adat, yaitu hukum-hukum yang ditetapkan untuk menyusun dan mengatur hubugan perorangan dan hubungan manusia, atau untuk mewujudkan kemashlahatan dunia. Hukum-hukum ini dapat berubah menurut perubahan masa, tempat dan situasi ( Hasbi Ashiddieqy, 1974 : ).

Sebagai sumber hukum islam al-Qur’an dan as-Sunnah tidak memuat terperinci tentang mu’amalah. Oleh karena itu, para ulama melalui kedua sumber tersebut, mengembangkan aspek-aspek hukum terutama dalam bidang mu’[amalah untuk menjawab permasalahan yang dihadapinya. Akan tetapi sebagaimana telah di uraikan diatas, paparan rinci tentang norma-norma hukum dari kedua sumber tersebut terutama untuk persoalan-persoalan diluar aspek ibadah belum menjangkau secara tegas berbagai fenomena yang terjadi pasca periode awal, sehingga diperlukan penalaran semaksimal mungkin untuk menggali hukum syara yang belum ditegaskan secara langsung dalam nash. Penalaran seperti ini dalam teori hukum islam disebut ijtihad.

Ijtihad dalam arti bahasa ialah bersungguh-sungguh. Ijtihad dalam arti luas adalah mengerahkan segala kemamp[uan dan usaha yang ada untuk mencapai sesuatu yang diharapkan. Meliputi segala usaha manusia yang sifatnya berat di dalam kehidupannya di dunia ini untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat sedangkan Ijtihad dalam kaitannya dengan hukum islam :

بد ل بكل الفقه في استثباط الاحكام العملية مث اد لتها التفصيليه

“ Pengerahan segala kemampuan yang ada pada seseorang ahli hukum islam dalam mengistinbathkan hukum yang amaliyah dari dalil-dalil yang tafshily “ ( A. Djazuli,dkk,2000:95 ).

Pada prakteknya hukum islam para ulama ushul menetapkan berbagai metode dalam melakukan Ijtihad. Dede Rosyada ( 1999 : 32 ) dalam uraiannya tentang metode , yaitu : metode analisis kebahasaan untuk memberikan penjelasan-penjelasan terhadap makna teks al-Qur’an dan as-Sunnah, metode analisis ta’lily dan metode analisis istishlahy.

1.metode analisis kebahasaan adalah kaidah-kaidah yang dirumuskan para ahli bahasa dan di adopsi para ahli hukum islam untuk melakukan pemahaman terhadap makna lafal. Sebagai hasil analisis induktif dari tradisi kebahasaan baik bahasa sendiri, bahasa prosa maupun bahasa syair.

2.Metode analisis ta’lily adalah analisis hukum dengan melihat kesamaan nilai-nilai substansial (illat) dari persoalan aktual tersebut, dengan kejadian yang telah di ungkapkan oleh nash. Metode-metode yang telah dikembangkan para ulama dalam corak analisis tersebut adalah qiyas dan istihsan.

3.Metode analisis istishlahy adalah kaidah-kaidah untuk mengkaji posisi hukum dari berbagai kejadian dengan mempertimbangkan kemashlahatan bagi kehidupan manusia yang akan timbul oleh rumusan pemikiran hukumnya itu dalam perkembangan pemikiran ushul fiqh, corak penalaran istishlahy ini tampak antara lain dalam metode mashlahat al-mursalah dan al-Dzari’ah.

Ijtihad pada zaman sekarang merupakan suatu kebutuhan, bahkan suatu keharusan bagi masyarakat Islam. Menggariskan dua jenis Ijtihad yang dibutuhkan dewasa ini untuk menjawab permasalahan-permasalahan kontemporer. Dua jenis Ijtihad tersebut adalah Ijtihad intiqai dan Ijtihad insya’i Ijtihad inqai adalah Ijtihad yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk memilih pendapat para ahli fiqih terdahulu mengenai masalah-masalah tertentu, sebagaimana tertulis dalam berbagai kitab fiqh ; kemudian menyeleksi makna yang lebih kuat dalilnya dan lebih lebih relevan dengan kondisi sekarang ini. Sedangkan Ijtihad insya’i adalah usaha untuk mengambil kesimpulan hukum mengenai peristiwa-peristiwa baru yang belum diselesaikan oleh para ahli ushul fiqh terdahulu.

Dengan melalui bentuk Ijtihad yang telah di uraikan diatas. Mujtahid sekarang dituntut untuk mempelajari dan meninjau kembali masalah-masalah yang telah ditetakan hukumnya itu, kemudian menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan sekarang ini.

االمحا فظه على الاحدالصلح بالجد يد الاصلاح

“ Memelihara sesuatu yang lama dan baik, serta mengambil yang baru dan terbaik “ ( Fahurrahman Djamil,1993 : 31 ).

Dewasa ini tampaknya pendapat umum di dunia Islam mengenai terbentuknya pintu Ijtihad, tetapi dalam kenyataannya sedikit sekali Ijtihad yang dilakukan para ulama. Slah satu penyebabnya karena masalah keagamaan dimunculkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern semakin pelik dan kompleks misalnya masalah Hak Cipta, berkaitan erat dengan ilmu sosial. Ilmu ekonomi, disamping itu tentu saja ilmu keagamaan. Sementara itu pengetahuanulama hanya terbatas pada bidang spesialisnya, karena itu, di zaman modern ini Ijtihad individual nampaknya tidak mampu lagi memecahkan masalah-masalah yang muncul berkaitan dengan masalah-masalah kontemporer. Oleh sebab itu lembaga Ijtihad atau Ijtihad kolektif yang beranggotakan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu sangat dibutuhkan ( Huzaimah Tahido Yanggo,1997 : 45 ).

Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) yang merupakan wadah musyawarah para ulama, zu’ama dan cendekiawan muslim serta menjadi pengayom bagi seluruh muslim Indomnesia adalah lembaga paling berkompetensi bagi pemecahan dan penjawaban setiap masalah sosial keagamaan yang senantiasa timbul dan dihadapi masyrarakat serta telah mendapat kepercayaan penuh baik dari masyarakat maupun dari pemerintah. Majelis Ulama Indonesia mempunyai beberapa komisis salah satunya ialah komisi fatwa dan hukum yang bertugas untuk menjawab segala permasalahan hukum Islam yang senantiasa muncul dan semakin kompleks, yang dihadapi oleh umat Islam Indonesia. Para ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia melalui komisi fatwa dan hukumnya pun dalam berijtihad untuk menetapkan fatwa hukum dari suatu masalah, mempunyai ketentuan-ketentuan sendiri yang telah disepakati ( Imam Masykoer Alie, 2003 : 2 ). Begitu pula dalam berijtihad untuk menetapkan fatwa tentang hukum Hak Cipta.

Ketentuan-ketentuanb lembaga tersebut dalam menetapkan fatwa hukum secara umum Imam Masykoer Alie ( 2003 : 4 ) telah dinyatakan dalam pedoman penetapan fatwa hukum Majelis Ulama Indonesia Nomor U-5gb/MUI/x/1997, yang ditetapkan pada tanggal 2 Oktober 1997 Dasar-dasar penetapan Pasal 2 sebagai berikut :

1.  Setiap keputusan fatwa harus mempunyai dasar atas kitabullah dan sunnah Rasul yang mu’tabarrah, serta tidak bertentangan dengan kemashlahatan umat.

2.   Jika tidak terdapat dalam kitabullah dan sunnah Rosul sebagaimana ditentukan pada pasal 2 ayat (1), keputusan fatwa hendaknya tidak bertentangan dengan Ijma’ qiyas’ yang mu’tabar, dan dalil-dalil hukum yang lain seperti istihsan, masalih mursalah dan sadz-Dzariah.

3   Sebelum pengambilan keputusan fatwa hendaklah ditinjau pendapat para Imam mazdhab terdahulu, baik yang berhubungan dengan dalil yang di pergunakan oleh pihak yang berbeda pendapat.

4.  Pandangan tenaga ahli dalam bidang masalah yang akan diambil keputusan fatwanya dipertimbangkan.

Dengan demikian, pendapat Majelis Ulama Indonesia tentang Hak Cipta akan dipengaruhi oleh pemahaman terhadap permasalahan yang dihadapi, metode penetapan fatwa hukum yang telah disepakati pada lembaga tersebut dan penggunaan salah satu pendekatan dari sekian pendekatan-pendekatan dalam penetapan hukum.

E. Langkah-Langkah Penelitian

Dalam menjawab permasalahan-permaslahan dan tujuan penelitian penulis, agar sistematis dan terarah perlu untuk menentukan langkah-langkah penelitian sebagai berikut:

1. Penentuan Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode content analisys, metode ini biasanya digunakan dalam penelitian pemikiran yang bersifat normatif (Cik Hasan Bisri, 1999:56), dalam hal ini fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Hak Cipta. Fatwa Majelis Ulama Indonesia ini dapat digolongkan kedalam jenis produk pemikiran hukum Islam yang dikeluarkan oleh organisasi keagamaan.

2. Penentuan Jenis  Data

Dengan memperhatikan rumusan masalah dan tujuan penelitian, dapat diketahui bahwa penelitian ini adalah penelitian kualitatif oleh karenanya penulis mengunakan  jenis data yang berkaitan dengan penelitian kualitatif,  jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :

  1. Data tentang urgensi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Hak Cipta
  2. Data tentang alasan dan dasar hukum yang digunakan komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Hak Cipta
  3. Data tentang metode istinbath ahkam yang dgunakan komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Hak Cipta  .

3. Penentuan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian bertempat  di Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) Jawa Barat yang berkedudukan di Bandung dengan kantor Jl. R.E. Martadinata dengan alasan untuk mempermudah jangkauan penelitian dalam memperoleh data-data yang diperlukan.

4. Penentuan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Data-data tersebut diperoleh dari sumber-sumber otentik yang terdiri dari

  1. Sumber data primer yaitu : sumber yang harus ada dan menjadi pokok dari data-data yang dikumpulkan yaitu Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Hak cipta dan wawancara dengan komisi Fatwa Majelis Ulama indonesia
  2. Sumber data sekunder yaitu : sejumlah literatur yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti..
  3. Teknik Pengumpulan Data

1. Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara dialogis terhadap responden mengenai masalah penelitian. Wawancara ini ditunjukan kepada salah satu anggota komisi Fatwa MUI Pusat dan komisi Fatwa MUI Jaba

2. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi yaitu penelaahan terhadap dokumen yang memuat catatan tentang permasalahan penelitian.

3. Studi Kepustakaan

Teknik ini digunakan untuk mendapatkan teoritik mengenai masalah yang di teliti, yaitudengan cara mempelajari buku-buku yang berkaitan dengan penelitian.

4. Analisis Data

Analisa data yang dalam penelitian ini, penulis lakukan secara sederhana, analisis data dapat diartikan sebagai suatu proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca juga dapat ditarik kesimpulannya dengan   cara   berikut sebagaimana yang di kutif oleh Lexi J.Moleong (2004: 247):

  • Menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari observasi dan wawancara yang telah dituliskan dalam catatan lapangan, arsip atau berkas dan lain sebagainya dengan jalan dibaca, dipelajari dan ditelaah, selanjutnya difahami.
  • Menyusun Seluruh data dalam satu-satuan menurut perumusan masalah.
  • Mengadakan pemeriksaan keabsahan data melalui metode studi kepustakaan ( Lexy J. Moleong : 190 ).

DAPTAR PUSTAKA

  1. Imam Masykoer Alie, Himpunan Fatwa Majejelis Ulama Indonesia, Depag RI, Jakarta. 2003
  2. Cik Hasan Bisri, Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi ( Bidang Ilmu Agama Islam ), Grafindo, Jakarta, 2001.
  3. Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001.
  4. Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Ilmu Fiqh, Bulan Bintang, Jakarta 1974.
  5. M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah ( Zakat, Pajak, Asuransi, dan Lembaga keuangan ), Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997.
  6. Dede Rosyada, Metode Kajian Hukum Dewan Hisbah Persis, Logos, Jakarta 1999.
  7. Fathurrahman Djamil, Metode Ijtihad Majelis Tarjih Muhamadiyah, Logos Publishing House, Jakarta, 1995.
  8. Huzaemah Tohido Yanggo, Pengantar Perbandingan Madzhab, Logos, Jakarta, 1999.
  9. Musthofa Zarqa’
  10. Sunarjo, dkk, Al– Qur’an Terjemah, Depag 1990

Ketenangan Yang Haqiqi

Setiap Manusia mendambakan ketenangan / kedamaian, berbagai upaya telah ditempuh dengan berbagai cara, tapi apakah ketenangan itu bisa mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa? bahkan tak sedikit orang yang menghabiskan uang /hartanya hanya sekedar untuk memuaskan rohaninya dengan pelampiasan2 semu seperti clabing, pesta bebas, miras, Nge Gank, dan pengguna Narkoba. kedamaian hati / ketenangan jiwa yang dicari.

Manusia sebetunya tidak memerlukan biaya yang besar / menguras tenaga / pikiran dan bahkan ketenangan dan ketentraman jiwa itu sendiri adalah lahir dari pikiran dan hati kita sendiri. Seberapa sulitnya, atau susah payahnya kita kalau hati dan pikiran kita tetap tenang dan terkendali InsyaAllah ketenangan itu bisa di dapat. sedangkan sebaliknya walaupun harta dan kekayaan yang melimpah tetapi hati dan piikiran ini gelisah selamanya ketenangan tidak akan kita peroleh.

Mutiara Yang Hilang

Dimanakah keadilan di saat orang lain terdzhalimi , dimanakah nilai keikhlasan di saat Qt mngharapkan imbalan, dimanakah nilai kejujuran d saat diri penuh kepalsuan & kemunafikan, dimanakah nilai kebenaran d saat kemungkaran merajalela dimana nilai kemanusiaan di saat orang lain membutuhkannya. Mutiara yg indah itu tLh terpendam dalam samudra yg luas, terkubur d bwah dasar bumi yg dalam atau hilang lenyap terbawa angin entah kemana? Utk menemukannya Qt hrs menggali & menyelaminya.malik el-hakim

Budaya Mengekor

Akhir2 ini lg gencar2nya Bangsa Indonesia mempromosikan produk kebudayaannya sendiri. Berbagai ragam khazanah warisan bangsa seperti batik, angklung, tari2 tradisional, diantaranya tari pendet, tari reog & berbagai macam seni tradisional mulai semarak mewarnai dalam setiap pergelaran2 akbar & acara ceremonial kenegaraan / sebatas entertaimen begitu terasa. Pemimpin2 negri ini tdk malu2 menggunakan produk dalam negri, bahkan pemerintah menganjurkan utk memakai produk buatan anak bangsa.

Entah mereka atas kesadaran sendiri mencintai buatan sendiri atau karena malu dibilang tidak mencintai produk dalam negri tidak sedikit Mereka mulai berbondong2 memakai produk sendiri, padahal biasanya memakai barang import dr itali, paris, inggris seperti baju, tas, sepatu dll. Masyarakat kitapun tidak malu2 lagi memakai batik, kain bercorak cara pmbuatannya tradisional dg canting utk menghasilkan corak & motif yg cantik. Bahkan batik tdk hanya menjadi warisan bangsa Indonesia tpi telah menjadi warisan Dunia.

Fenomena tsb menggembirakan hati kita, mudah2an gejala ini bukan karena sentimentil negara tetangga Malaysia yg akhir2 ini ramai dibicarakan di layar tv atau media cetak. Bahkan hmpir sebulan menjadi headline perbincangan hangat media kita. Klaim trhadap kbudayan bangsa Indonesia mulai dari angklung, batik, tari barong dr daerah ponorogo, tari pendet asli dri bali bahkan lagu rasa sayange pun diaku malaysia sbg warisan budayanya. Lebih parahnya lg Aksi kLaim tsb di siarkan melalui tayangan Discovery dLm rangka promosi pariwisata visit malaysia dg visi truly malaysia. Tayangan tsb di siarkan ke seluruh Dunia. Sontak aksi kLaim sepihak malaysia tsb membuat marah rakyat Indonesia trLbih pemerintah khususnya Departemen kebudayaan & Pariwisata merasa kebakaran jenggot ats sikap Malaysia tsb.

Padahal tdk sekali Malaysia trsandung msalah yg sama dg Indonesia & sdah brulang kali di ingatkan utk tdk membuat ulah yg memancing amarah rakyat Indonesia. SbLumnya jga indonesia brsitegang dg Malaysia trkait batas negara &prebutan pulau Ambalat. Pemerintah Indonesia melalui deplu & dephumkam wil Ambalat msk dLm wil Indonesia. Tidak halnya itu pulau sipadan & ligitan lenyap dr peta d caplok oleh Malaysia. Sikap Malaysia tsb membuat rakyat Indonesia geram dri brbagai sengketa tsb tdk ad ti2k temunya & Pemerintah kita dinilai lamban & lemah dLm brdplomasi. Trksan tdk tgas dLm mengambil kputusan. Akibatnya masyarakat tdk puas dg cara2 pnyelesaian oleh pemerintah, muncullah aksi gelombang unjuk rasa & prlawanan pd Malaysia.

Beragai macam ekspresi utk meluapkan kmarahan dg membakar bndera Malaysia, menyerukan utk menarik TKI Ke tanah air, bhkan membuka relawan berani mati utk brperang dg Malaysia. Reaksi yg brLbihan tsb tdk akn menyelesaikan masalah jstru smakin memperkeruh masalah. Kedua negara hrs brfikir jernih & d selesaikan dg kepala dingin, buka ruang utk dialog semangat solutif jngn sampai masalah ini d biarkan brlarut-larut situasi bisa d tunggangi orng ketiga. Kita hrs brsikap bijak dLm menyikapi msalah tsb. Coba kita melihat masalah ini dr sudut pandang lain. Jngn melihat kebudayaan kita d kLaim oleh Malaysianya, biarkan itu mnjadi urusan pemerintah yg menyelesaikannya. Tapi kita bsa mengambil pelajaran brharga dr prmasalahan trsbut yg bsa kita petik diantaranya; rasa mencintai & memiliki hasil krya sendiri, bangga memakai produk anak negri. Pdhal sbLumnya kita lebh gaul kLo menggunakan produk import, apLgi bg kalangan pjabat & artis gengsi rasanya memakai produk dLm Negri.

Selnjutnya tmbuhnya smangat Nasionaisme mskipun msh brdsarkan emosiönal bkan dg rasional. Kmudian yg bsa kita petik, trnyata Bangsa ini adLh bangsa besar menyimpan brbagai macam potensi yg belum trgali. Keaneka ragaman budaya yg tdk dimiliki oleh bangsa lain. Tak hran bnyak negara lain iri pd Indonesia trmasuk Malaysia dg tdk malu2 mengadopsi kbudayaan Kita. Aksi kLaim kbdyaan Indonesia oleh Malaysia menunjukan negara kita di akui oleh Dunia bhwa negara ini kaya akn keanekaragaman budaya. Bahkan bnyak Negara lain yg ingin memilikinya, krn mungkn miskin dg produk budyanya sendiri. Sedangkn negara kita sangat kaya akn krya ank negri yg menjadi khazanah warisan bngsa.

Sering kita lihat & dngar “bule” wrga negara asing pngin mnjadi warga negara indonesia. Seperti gelandang persib cristian gonzales brkeinginan pindah kwarga negaraannya dr negara Argentina stelah mempersunting wanita indonesia. Bhkan ia ingin mengharumkn nama bangsa Indonesia di kancah Internasional. Tdk hnya itu saja bnyak turis brbondong2 utk mempelajari kbudayan kita dg mempelajari bahasa Indonesia bhkn tdk sdkt yg sudah lancar & mahir mnjadi guru bhsa Indonesia d negara asalnya. Ad jg yg mempelajari tari2 tradisional sprti tari pendet, jaipong dll. Bahkn tdk malu2 memakai batik, kain brmotif asli dr Indonesia. Pdhal mereka bkn warga negara Kita, tp kecintaannya pd kbudayaan Indonesia melebhi kita trhadap tanah airnya sendri. Itu artinya negri ini menjadi kiblat bg negara lain, dan trend center dLm segi orisinal budayanya. Hal ini menunjukan negara Indonesia memiliki peradaban yg tinggi.

 

Selamat Datang

Asalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarrakatuh

Alhamdulillahirabil’alamin atas berkat Rahmat Allah SWT atas terbitnya blog pribadi ini. Dengan blog ini merupakan sarana yg efektif dalam publikasi / syi’ar utk perbaikan ummat bangsa & negara, sebagai upaya kontribusi pemikiran  melalui tulisan2 yg konstuktif & menambah wawasan & pengetahuan. mudah2an bermanfaat baik untuk pribadi maupun untuk semua.