Merajut Benang Kusut Negri Ini

Seharusnya Negeri ini Bangga sebagai bangsa yang besar dengan potensi Sumber Daya Alam yang melimpah ruah, Daratan terhampar luas terbentang dari sabang sampai merouke ,tanahnya subur makmur bahkan pepatah jawa mengatakan tanah loh jinawi, perut bumi yang kaya penuh harta karun telah dikuras ratusan tahun sampai sekarang Negri ini belum menikmatinya,  apalagi lautannya luas bahkan negri ni dijuluki Negri kepulauan.

Negri ini juga tidak kekurangan akan orang pintar dan berbakat, dengan segudang potensi dari berbagai disiplin ilmu Negri ini mempunyai semuanya. Tapi kenapa yang terjadi justru tidak seindah ceritanya? Bangsa ini masih miskin, tingkat pengguran masih tinggi dengan sedikitnya lapangan kerja, banyak penganguran produktif tiap tahunnya, banyak perusahaan PHK karyawannya, gajih buruh yang tidak layak dengan kebijakan yg pro ke perusahaan dari pada buruh. System kerja kontrak bagi karyawan, TKI diperlakukan seperti binatang di Negri orang lain, di eksploitasi habis-habisan di tanah air.

Jumlah kemiskinan semakin meningkat, Angka pengangguran dan kemiskinan ini tidak ditekan dan terus meningkat seiring laju pertumbuhan penduduk yang membludak, seakan-akan pemerintah sudah kehilangan caranya, dengan berbagai kebijakan yang sudah diterapkan tetapi belum efektif menyelesaikannya. Kebijakan transmigrasi ygtidak optimal, kebijakan dengan sitem kerja kontrak yang menguntungkan pengusaha, pengiriman TKI ke luar negri merupakan upaya pemerintah dalam mengurangi tingkat penganguran di dalam negri.

Dampak dari pengangguran dan kemiskinan ini adalah tingkat kriminalitas yang tinggi, tindak kejahatan jalanan sering kita temui baik di media maupun di lapangan. Seperti perampokan, perjudian, pencurian disebabkan karena desakan kebutuhan ekonomi rumah tangga yang harus dipenuhi. Bahkan tindak kejahatan sekarang lebih berani dan nekad demi sesuap nasi nyawa orang lain tewas melayang sia-sia, pembunuhan direncanakan karena hutang, pekerjaan atau dendam menjadi alasan biasa bagi mereka.

Kemiskinan juga menjadikan wanita – wanita kartini Negri ini yang rela menjual harkat dan martabatnya dengan menjual diri kepada hidung belang, menjajakan diri di jalanan. Dengan imbalan uang mereka berani melakukan perbuatan tersebut untuk menghidupi keluarga. Kejahatan trafficking merupakan penyumbang terbesar terjadinya pelacuran di Negri ini, dilakukan secara kelompok melakukan praktek penjual belian manusia secara terorganisir, lagi-lagi pemrintah lum mampu membendung permasalahan tersebut.

Negri ini juga negri latah, kebebasan perss, media kita menjadi raja menguasai dan mengendalikan semua informasi melalui sarana yang efektip media cetak dan elektronik membom bardir informasi dengan pemberitaan kepada masyarakat. dengan kebebasan press ini media kita terlalu kebablasan dalam menayangkan pemberitaannya, informasi yg diperoleh terkadang hanya untuk kepentingan materi, karena dalam pemberitaannya sarat dengan manipulasi / pencitraan yg dibuat utk eksploitasi pasar. Pengusaha, penguasa dan media ketiganya adalah pemain informasi yang mengendalikan Negara ini, keinginan pasar dibuat mengikuti kehendak media yang menghipnotis agar mengikuti pemikiran, cara, langkah dari pemegang media. Dominasi media dalam pembentukan opini publik sangat berpengaruh pada pola pikir masyarakat, segala tindak dan tanduk bisa di set dengan remot control. Sedangkan muatan media kita belum berkualitas, berita atau tayangan-tayangan yang disajikan masih konsumsi rendahan, unsur kekerasan, kejahatan, erotisme, dapat diaksikan secara fulgar oleh masyarakat. sedangkan masyarakat sebagai penonton hanya bisa menikmati apa yg ditayangkan oleh media, tanpa memilah – memilih tayangan yg disajikan  masyarakat dengan menelan mentah- mentah. Objek dari media adalah publik, untuk itu upaya untuk menyedot massa para pengusaha dibidang industri media berbondong-bondong utk melakukan eksploitasi media melalui sarana-sarana efektip dalam menghipnotis masyarakat. Yang terjadi akibat eksploitasi tersebut masyarakat yang dirugikan, pertama; masyarakat kita digiring pemikirannya melalui tayangan-tayangan pemberitaan provokatif berupa ajakan, himbauan dll yang menjurus pada perbuatan merugikan contohnya; prilaku konsumtif, hedonisme akibat menonton gaya hidup artis, pragmatism karena cara penyajian melalui media mencuci otak manusia untuk berbuat instan, melakukan sesuatu tetapi tidak melalui proses.

Kedua ; menghancurkan kreatifitas diri masyarakat, dg asyiknya tontonan di media kita dibuai dengan tampilan menarik dari layar kaca, tanpa kita berbuat apa – apa kita bisa menikmati semua kenikmatan yg ada di bumi ini. Maka akan lahirlah para pemalas yang hanya bisa menghayal menerawang jauh angan-angan akan kehidupan dunia, selanjutnya akan mematikan idealism, merasa puas dengan apa yang ada pada teknologi dan informasi yg canggih, kita malas untuk melahirkan ide-ide sebar yang original lahir dalam diri kita, karena pengaruh media. Yang ketiga ; dampaknya akan mempengaruhi jiwa dalam diri, melalui media segala informasi masuk pada otak kita infut yang diperoleh dari media akan mendominasi pemikiran yang akan mempengaruhi perilaku dalam diri. Apabila infut yg diperoleh adalah pemberitaan negative yg terjadi terus menerus maka akan berdampak pada sikap keseharian kita di masyarakat.

Korban dari dampak Media ini yang paling menghawatirkan adalah Remaja dan Pemuda Negri ini, berjutaan informasi yang didapat dari media cetak maupun elektronik yang membombardir melalui tayangan tv.  Terjadi infiltrasi pemikiran, gaya hidup dan tren pada generasi putra bangsa kita, secara tidak sadar terjadi pencucian otak yang berlangsung terus menerus dengan penanaman ide –ide materialisme hedonis sesuai dengan keinginan pemegang media. akibatnya pada mentalitas putra – putri bangsa kita yang lemah dan kehilangan identitas diri, tumbuhlah remaja-remaja / pemuda-pemuda yang tidak mempunya orientasi kedepan karena tidak mempunyai idealisme yg menjadi prinsip hidupnya. Kalau kita cermati pemuda kita lebih asyik dengan kehidupan matrealis hedonis, berfikir instan dan pragmatis, terlihat dari pola hidup, gaya hidup yang mengekor para idolanya di layar kaca.

Para pelaku media juga tidak peduli pada perkembangan mental anak negri ini, mereka asyik dengan mengeruk materi sebanyak-banyaknya melalui tayangan komersil yang tidakbermutu tapi laris maris. Dalam dunia perfileman kita masih jauh harapan, bagaimana dunia seni ini melalui perfilman bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa kita di kancah dunia. Gambaran buruk wajah negri ini diperparah dengan film – film yang tidak mendidik dan bermoral bermunculanlah film – film ber genre mistic, pornografi dan kekerasan dengan mengeksploitasi dunia hiburan menjadi menarik, menunjukan tidak kreatifitasnya para pelaku seni. Dengan alasan reating tinggu produsen media berbondong-bondong membuat film / tayangan yg serupa, karena dari segi cost pembuatan terbilang murah dg modal kecil mampu meraup rupiah yg fantastis besar.

Publik figur juga belum menunjukan kualitas terbaiknya dalam industi seni ini, mereka hanya Lipstik saja, apa yang ditampilkan bernilai seni rendah, melakukan adegan yang tidak pantas untuk di tiru, bermodalkan kecantikan, kemolekan tubuh mampu menghipnotis penontonnya. Alasan menghibur dan tuntutan profesionalitas peran, sang artis menghalalkan bisnis industry hiburan di negri ini. Mereka tidak menyadari bahwa dirinya menjadi panutan bahkan tauladan penggemarnya / fans yg fanatik. Anak abg dan remaja yang menjadi korban dari ulah idolanya, dengan berbagai cara mereka melakukan apa saja terlepas baik buruknya itu demi sang idola.

Provokasi-provokasi pun disebar dalam dunia hiburan kita ; provokasi akan sex bebas, pergaulan bebas, hedonism dan kehidupan matrealisme dan dunia glamor menjadi gaya hidup anak muda di negri ini, bolak-balik ke mall dan club menjadi tren muda-mudi jaman sekarang. Inikah wajah anak negri ini ? dan moral anak Negri ini hancur kehilangan identitas jatidirinya sebagai putra-putri bangsa sejatinya mengharumkan nama baik Negrinya justru, prilaku menyimpang, pergaulan bebas menjadi gaya hidup Anak muda jaman sekarang. Mereka seharusnya menjadi tunas bangsa yang mewarisi budi luhur sang pendiri Negara ini, kepada siapa lg negri ini diwariskan? Kalau putra bangsa tidaklagi bermoral.

Media adalah cerminan dari watak masyarakat negri ini, karakter masyarakat dibangun dari media itu sendiri, adanya distorsi dalam media kita ; dilain sisi harus melakukan pemberitaan yang riil sesuai kondisi dilapangan, tapi jga media kita tidak lepas dari pengendali media yang berkepentingan.

Segudang permasalahan bettubi-tubi menjadi sarapan setiap pagi. Pemberitaan buruk dengan berbagai macam jenis kasus menghiasi pemandangan layar kaca kita setiap hari, bahkan permasalahan Negri ini sudah sampai ke semua sektor kehidupan baik Sosial, Politik, Ekonomi, Budaya dan Agama. Lebih parahnya akhlak para pemimpin Negri ini lebih rendah dari pada pelacur, prilaku KKN sistemik terjadi secara berjamaah dilestarikan di Negri ini, Suap Menyuap menjadi hal yg lumrah menjadi bagian dari aktivitas birokrasi, terjadi dari level atas bahkan sampai level bawah di kepemerintahan. Sedangkan kinerja Birokrat kepemerintahan masih jauh dari harapan bagaimana mereka bisa melayani masyarakat dengan baik, adanya kemudahan dan kelancaran berkaitan administrasi dalam urusan perijinan dan administrasi lainnya.

Hukum juga kehilangan mahkotanya, para aparat penegak hokum tidak lagi menjunjung supremasi hokum di Negara ini, hokum dibuat hanya untuk dilanggar, hokum ditegakan hanya bagi penguasa dan pengusaha yang berduit tidak bagi rakyat kecil yang selalu tertindas, susahnya mencari keadilan di negri ini. Paradok hokum di negri ini terus menerus terulang dalam berbagai kasus hokum. Mental penegak hokum sangat rendah banyak pelanggaran terstruktur oleh alat penegak hokum baik polisi, jaksa dan hakim semuanya sudah terkontaminasi oleh gemerlap kemewahan dunia dengan iming-iming harta, tahta dan wanita menjadikan gelap mata dg menghalalkan segala cara. hokum dan tatakelola hokum yang kacau terjadi di negri ini, banyak kasus hokum yang tidak tuntas penyelesaiannya apalagi kasus hokum yang besar sarat dengan kepentingan politik seperti BLBI, kasus bank century, kasus antasari, kasus bibit candra, dan yang terbaru kasus nazarudin, nunun nurbaeti, dan kasus pemalsuan surat keputusan mahkamah konstitusi. Astaghfirullah hukum sedang ditelanjangi oleh para mafia hukum dan penjahat berkedok pejabat menjilat darah rakyat. Apa yang terjadi jika seluruh instansi peradilan dinegri ini terlibat skandal mafia hukum di dalamnya mulai dari peradilan terendah, mahkamah agung bahkan mahkamah konstitusi terjangkit penyakit kronis, ibarat mengencingi atau mengotori rumah sendiri. Kemanalagi kita akan mengadu memohon keadilan di negri ini ? kalo lembaga yang selama ini dipercaya untuk mengadili kasus hokum justru terpelosok dalam jeratan kasus hokum dalam pengadilan itu sendiri. Bahkan terjadi secara sistemik yang dilakukan para penegak hukum di negri ini.

Sarang korupsi atau bisa juga dijuluki negri para korupsi, tulah wajah bangsa negri ini meskipun besar tetapi tidak dibarengi dengan moral yang besar, berbagai kasus KKN mewarnai panggung dagelan negri ini. Survei Political & Economic Risk Consultancy (PERC) menyebut Indonesia sebagai negara terkorup di Asia Pasifik menurut para pelaku bisnis. Hal ini membuktikan peran koruptor masih sangat kuat di negeri ini. Hasil survey PERC yang berbasis di Hongkong yang dirilis Senin (8/3/2010), menyebut RI menjadi negara terkorup dengan mendapatkan skor 9,07 dalam skala 1-10. Di bawah RI berikutnya Kamboja, Vietnam, dan Filipina. sumber : detik.com.

Memang sungguh ironis pemerintah selalu menggembor-gemborkan pemberantasan korupsi melalui slogan-slogan maupun dalam bentuk kebijakan yang melahirkan produk / alat hukum untuk membredel para pelaku tindak korupsi, maka terbentuklah KPK difungsikan sebagai lembaga khusus untuk menangani kasus yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi, dengan wewenangnya yg tinggi melebihi dari kepolisian KPK bisa melakukan infestigasi langsung secara independen terhadap perkara-perkara hokum yang menjerat para koruptor tidak hanya kelas teri tapi juga menjerat para koruptor kelas kakap. Dalam perjalananya KPK tidak semulus apa yang kita harapkan, KPK dengan kewenangannya tidak pandang bulu, mampu menjerat para koruptor kejeruji besi, justru yang terjadi adalah KPK mandul kehilangan taringnya, sedikit-demi sedikit lembaga ini kehilangan wibawanya, karena kejahatan korupsi terjadi juga dalam tubuh KPK. Terjadinya manifulasi dan kepentingan yg kuat upaya utk menjatuhkan kridebilitas KPK melalui kasus Antasari yang penuh rekayasa. Penyelidikan terhadap amburadulnya IT KPU yang diduga kuat memainkan peranan besar dalam manipulasi Pemilu dan Pilpres, telah menelan korban dengan dijebloskannya Antasari Azhar ke dalam penjara dengan tuduhan yang mencengangkan, yang hingga kini tetap misteri.

Sementara Susno Duadji yang mulai buka mulut hal-hal terkait dengan Century, dijebloskan ke dalam tahanan dengan tuduhan korupsi ketika menjadi Kapolda Jawa Barat. Penegakan hukum hanyalah alat permainan untuk menutupi dan membela kepentingan. Dalam suasana krisis seperti itu, pemerintah masih berupaya untuk membangun citra memberantas korupsi. Namun upaya ini tak berhasil memulihkan citra itu, kendatipun bagi Pemerintah, citra adalah Panglima!. Namun, kalau menyinggung bailout Century, segala upaya dilakukan agar mega skandal ini tidak terkuak, karena akan menohok substansi legalitas Pemilu 2009 dengan komposisi anggota DPR seperti sekarang.

Apa yang dikemukakan di atas hanya dipahami oleh masyarakat kelas menengah dan kelas atas saja. Masyarakat kelas bawah, walaupun mendengar berita, mungkin kurang mampu mencerna dan kurang menaruh perhatian tentang hal-hal yang tidak secara langsung mengenai kehidupan mereka. Sejumlah kasus lama mulai dibongkar-bongkar kembali  seperti kasus penyuapan sejumlah anggota DPR dalam pemilihan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Guberbur BI. Kasus Sisminbakum diangkat kembali, walau sejak awal awam pun tahu ada rekayasa dibalik semua itu.

Sebetulnya ada apa dengan KPK ini ? bisa jadi dalam tubuh KPK terdapat borok yang sedikit-demi sedikit melemahkan peranan penegakan hokum terhadap tindak korupsi di negri ini. Musuh dalam selimut terjadi penhianatan terhadap komitmen pemberantasan korupsi di negri ini. Masih ingat kasus bibit dan chandra kasus suap Anggoro Widjojo, tersangka kasus korupsi pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu). dan penyalahgunaan wewenangnya saat mengeluarkan keputusan cegah kepada Anggoro. Kemudian kepolisian menetapkan keduanya sebagai tersangka akibat pelanggaran tersebut. Tiba-tiba setelah ada penggiringan opini publik melalui konfrensi press, keduanya mendapatkan simpati dari masyarakat, munculah dukungan besar-besaran melalui media sosial fb dan dukungan lainnya untuk membebaskan bibit dan Chandra. Reaksi keras masyarakat menolak Bibit dan Chandra ditahan akhirnya Polri pun pada 3 November 2009, kemudian membebaskan Bibit dan Chandra. Selanjutnya kasus tersebut dianggap selesai atau deponering.

Negri ini juga pernah dihebohkan oleh ulah Gayus Tambunan mantan pegawai negeri sipil di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Indonesia. Namanya menjadi terkenal ketika Komjen Susno Duadji menyebutkan bahwa Gayus mempunyai uang Rp 25 miliar di rekeningnya plus uang asing senilai 60 miliar dan perhiasan senilai 14 miliar di brankas bank atas nama istrinya dan itu semua dicurigai sebagai harta haram. Dalam perkembangan selanjutnya Gayus sempat melarikan diri ke Singapura beserta anak istrinya sebelum dijemput kembali oleh Satgas Mafia Hukum di Singapura. Kasus Gayus mencoreng wajah institusi lembaga pemerintah di negri ini, dan membukakan tabir ternyata banyak sarang mafia di lembaga – lembaga pemerintahan. Gayus adalah beberapa kecil yang terungkap ia hanya tumbal dari korban kasus mafia-mafia hukum yang besar lainnya di negri ini.

Kasus terhangat adalah kasus pemalsuan surat Keputusan MK. Ada dugaan makelar jual beli kursi suara yang bermain di luar lingkaran Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Mahkamah Konstitusi (MK). Dengan mencuatnya kasus pemalsuan suarat Keputusan MK, berarti menunjukan adanya ketidak beresan didalam tubuh ke 2 lembaga Negara ini antara MK dan KPU. Mahkamah konstitusi merupakan lembaga tinggi dalam system ketatanegaraan yg memegang kekuasaan kehakiman bersama hakim mempunyai kewenangan dalam mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum Wajib memberi putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD 1945.

Kewenangan yang tinggi inilah seharusnya digunakan oleh MK sebaik-baiknya dalam memperbaiki lembaga peradilan yang ad di negri ini. Karena kepercayaan Masyarakat sekarang ini mulai berkurang terhadap lembaga pengadilan yang ada, satu-satunya harapan sebetulnya ada pada pundak Mahkamah Konstitusi. Melihat mulai terciumnya bau bangkai dalam tubuh MK mengindikasi lembaga pengadilan ini juga bermasalah. Kalo ternyata terbukti dan ada kasus dalam MK kayanya negri ini semakin pesimis terhadap hokum dan keadilan bagi rakyatnya.

Supremasi hokum jauh panggang dari api, jauh dari harapan semua Masyarakat akan rasa keadilan, kesenjangan hokum terjadi paradok bagi rakyat kecil. Kemana lagi rakyat akan mengadu ? meminta keadilan di Negri ini.

Amanat undang-undang dasar 45 hanyalah tulisan yang terpampang di dinding2, hiasan di musium atau sekedar mantra-mantra yg selalu dibacakan di dalam kelas sekolah. Dalam implementasinya belum mengamalkan isi dari UUD dasar tersebut, padahal pada alenia ke 5 berbunyi “ Keadilan bagi seluruh rakyat indonesia “. Adil di negri ini menjadi barang yang langka dan menjadi barang yg mahal, keadilan bagi penguasa, pejabat bukan keadilan bagi rakyat kecil, jelata.

Apa jadinya juga kalo ternyata benar terjadi mafia dalam KPU, Jika ternyata ada permainan di dalam KPU, berarti legitimasi pemilu 2009 juga perlu ditanyakan mengenai keabsahan hasil pemilunya. Apakah di dalam KPU terjadi praktek jual beli suara & manifulasi perhitungan suara? Kalo memang demikian selama ini Negri ini banyak di pimpin oleh orang-orang penipu dan penjahat dengan topeng manisnya menghipnotis rakyat dengan iming-iming kesejahteraan atas nama rakyat.

Begitu juga dengan tingkah Elite di negeri ini mereka harus mengubah perilaku mereka. Kalau tidak, gejala keterasingan elite dari massa pendukungnya akan tetap mewarnai perjalanan bangsa ini selama tahun 2011.

“Sesungguhnya jika para elite itu mau sedikit berkontemplasi secara jujur tentang kondisi rapuh bangsa dan negara ini, mereka tentu tidak akan memperturutkan dorongan syahwat politiknya tanpa kendali nurani dan akal sehat,” ujar cendekiawan Ahmad Syafii Maarif, di lakarta, jum’at (1/1).

Sepanjang tahun 2009, masyarakat disuguhi tontonan perilaku elite politik yang cenderung tidak peduli pada kepentingan publik. Kepercayaan publik kepada elite di negara ini berada di titik terendah.Perilaku elite yang cenderung mendahulukan kepentingan politik sesaat dinilai makin menambah beban negara. Pola pragmatis tersebut, kata Syafii, bertambah buruk dampaknya bagi negara ketika akhirnya memunculkan sengketa antarelite.

“Seharusnya dalam menjalankan amanah, para elite ikut berpegang pada nurani dan akal sehat. Nurani dan akal sehat inilah yang sejak beberapa tahun terakhir lumpuh dan kehabisan energi di tengah pasungan pragmatisme politik,” kata Syafii.

Syafii mengingatkan, bila elite di negeri ini tidak waspada atas kecenderungan perilaku publik, bukan tidak mungkin di tahun 2010, masyarakat tidak akan peduli lagi terhadap mereka. Bila itu yang terjadi, apatisme mengancam republik di tahun 2010.

Apatisme itu dapat memicu terjadinya beberapa hal. Pertama, masyarakat bakal menyerah kalah karena memang tidak berdaya dan kehabisan “napas” melawan elite. Atau, kata dia, publik akan menyusun perlawanan sporadis dengan segala akibat buruknya yang sulit dibayangkan. “Gejala atau kecenderungan nu sudah marak di beberapa daerah,” ujar Syafii. Sebenarnya tuntutan dari publik cukup sederhana, yakni menegakkan keadilan dan menjalankan kewajiban untuk kepentingan masyarakat luas. Tetapi, papar Syafii, elite yang ada masih terpasung pada kepentingan jangka pendek.

“Ini merupakan persoalan serius yang harus diatasi agar bencana kultural semacam ini tidak lagi menjadi pemandangan umum dalam panggung politik 2010,” tegas Syafii.Politikus yang menjamur sekarang ini, kata dia, harus belajar menjadi negarawan pada tingkatannya masing-masing. Hanya dengan cara demikian, menurut Syafii, Indonesia dapat melangkah maju dengan penuh percaya diri.

Sangat Rendah

Huli.mun.in Frans Magnis Suseno menambahkan, kasus pengumpulan koin untuk Prita menjadi sebuah pesan bahwa masyarakat banyak siap melawan ketidakadilan.”Elite di negeri ini seharusnya terbuka mata hatinya melihat bagaimana publik melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan di negeri ini,” tegas Magnis.

Saat ini, publik menilai para elite mulai mengkhianati cita-cita luhur pendiri republik ini. Kondisi itu terjadi karena mentalitas mereka sebagai pemangku kebijakan sangat pragmatis. Mereka terjun ke dunia politik untuk melayani diri sendiri.

Selain persoalan mentalitas, Frans menyebutkan struktur perpolitikan yang ada turut memberikan sumbangsih terhadap munculnya elite yang jauh dari masyarakat. Contohnya, kata dia, ketika para peserta pemilu mengeluarkan biaya agar dapat menang. Mekanisme tersebut dinilai memengaruhi pola-pola yang berkembang selanjutnya.

Ada apa dengan Negri ini ? bagaimana dengan nasib anak Negri? Akan dibawa kemana Negri ini? Siapa yang akan meneruskan dan mewarisi Negri ini ? apa solusinya untuk negri ini? melihat fenomena yang terjadi memang tidak mudah untuk membalikan keadaan kearah yang lebih baik menyelesaikan permasalahan yang mengarat. Sungguh Negri ini sedang sakit yang menahun, sakit kronis tak kunjung sembuh Diagnosa terhadap Negri ini sangat menghawatirkan karena penyakit Negri ini sudah komplikasi. Ribuan solusi kemungkinan belum tentu bisa menyembuhkan akar permasalahannya. Butuh satu obat yang mampu menyembuhkan ribuan penyakit tersebut  harapan satu – satunya adalah kepada para Pemuda

Sebagai generasi muda melihat fenomena tanah airnya yang menderita apakah hanya terdiam diri menjadi penonton di pinggir lapangan, menyaksikan sedikit demi sedikit kehancuran negrinya. Tentunya tidak demikian bagi Pemuda yang masih mempunyai nurani dan idealism yg digenggam teguh tanpa tertindas jaman. Saatnya pemuda bangkit dan sadar akan kondisi negri ini. Lakukanlah aksi nyata untuk perubahan dimulai dari diri sendiri dengan pribadi yang berkarakter Pemuda mempunyai jati diri dan identitas diri menyongsong membangun masa depan lebih baik.

Pemuda hari ini belumlah pemuda sebagaimana yang diharapkan para pendiri bangsa ini(founding fathers and mothers). Namun, pemuda hari ini pun bukanlah pemuda yang tidak bisa diharapkan. Karena harapan itu masih ada, dengan segudang potensi yang melekat dalam diri pemuda, saatnya potensi tersebut digali dan dikembangkan seoptimal mungkin, pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan, jadikan pemuda yang solutif terhadap segudang permasalahan bangsa di negri ini. Dengan semangat originalitas pemikirannya Pemuda tanpa kenal lelah terus bergerak melakukan kerja-kerja nyata untuk berkontribusi membangun negri ini,

Hari esok harus lebih baik lagi, terlepas dari banyaknya permaslahan yang carut marut di negri ini. Kita tidak hanya berpangku tangan kepada orang lain untuk melakukan perubahan dan perbaikan ini, pemuda mempnyai peranan strategis dalam mengambil peranan penting dalam upaya perubahan yang terjadi. Pemuda hari ini harus mempunyai formulasi yang jelas dan tepat menjadi insan solutif yang hadir ditengah-tengah masyarakat yang kehadirannya diharapkan dan dinanti. Pembelajaran yang berharga melihat perjalanan bangsa ini menjadi bekal bagi pemda untuk menatap masa depan harus lebih baik dari pada generasi sebelumnya, karena Pemuda yang akan mengamil ekstafeta kepemimpinan berikutnya.

Negri kuat lahir dari generasi yang siap dan unggul sebagai generasi pewaris negri, harapan satu-satunya kepada pemuda. Sebagai pemuda kita harus sadar dan bangkit melihat kondisi negri ini.

Iklan